Kamis, 20 Desember 2012

SEJARAH KANDANG dan POHON NATAL




I.    Persiapan Natal
Dalam hidup, yang namanya persiapan diri sangat diperlukan. Kalau kita mau pergi ke Gereja, tentu kita mempersiapkan diri, mulai dari busana, Alkitab, kendaraan, dan juga hati. Demikian pula apabila kita mau pergi bekerja, tentu saja kita tidak pergi tanpa mempersiapkan bahan-bahan pekerjaan yang biasanya kita catat di agenda kerja.

Persiapan hati yang harus mereka lakukan ada 3 hal : (1) mereka harus memiliki hati yang tidak mudah berpaling dari Tuhan, (2) mereka harus memiliki hati yang selalu sabar menanggung segala sesuatu, (3) mereka harus memiliki hati yang siap untuk berjalan pada jalan Allah.
Pada saat ini kita sedang memasuki masa persiapan Natal yang ditandai dengan berlangsungnya minggu Adven. Adven berarti masa penantian. Tentu saja yang dinantikan adalah kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Sebenarnya bagi orang Kristen, setiap hari adalah masa adven karena kita sedang menanti kan kedatangan-Nya untuk yang kedua kali. Karena itu ada baiknya persiapan yang harus dilakukan oleh bangsa Israel, dilakukan juga oleh kita.
Persiapan Natal bukan cuma bersibuk diri dengan membeli aksesoris Natal, menghias pohon Natal, membeli baju baru, mempersiapkan kado Natal, dan lain-lain. Persiapan yang paling penting dan dikehendaki Allah adalah persiapan hati; meluruskan setiap hati yang bengkok dan patah agar Natal tetap bermakna dan berarti untuk memberikan semangat dan kasih.



II. Sejarah Kadang dan Pohon Natal
Perayaan Natal (dari kata Latin Natus, yang artinya kelahiran) identik dengan berbagai ornamen-ornamen yang meriah. Sebut saja yang paling lazim ialah pohon natal dan kandang natal. Hampir di setiap Gereja dan rumah-rumah orang Kristen dan Katolik terdapat pohon natal dan kandang natal. Bagi beberapa orang, natal tanpa ornamen-ornamen tersebut seperti itu terasa tidak lengkap atau tidak meriah. Bahkan di beberapa tempat, orang-orang mulai memodifikasi ornamen-ornamen tersebut, sekedar mencari perhatian atau membuat rekor, misalnya pohon natal tertinggi, pohon natal dari bahan unik, atau kandang natal terbesar dan unik.

Tidak salah memang jika orang begitu antusia dengan ornamen-ornamen natal tersebut, tetapi janganlah itu menjadi suatu kewajiban yang mengikat, sebab itu bukanlah suatu keharusan tetapi hanya merupakan tradisi dari budaya tertentu yang meluas dan popular hamper di seluruh penjuru dunia (kecuali Arab Saudi barangkali). Oleh karena itu, baguslah kalau sambil kita berkreasi dengan pohon natal dan kandang natal kita juga tahu sejarah dan makna dari pohon natal dan kadang natal.

Pohon Natal yang pertama kali dibuat oleh Pangeran Albert dan istrinya, Victoria dari Jerman. Waktu pohon Natal dihiasi lilin dan digantungkan aneka permen serta kue-kue Natal. Lilin-lilin untuk menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bintang-bintang berkilau di langit yang kelam. Dan seiring dengan waktu pohon Natal pun didekorasi dengan hiasan-hiasan menarik.
Sedangkan sejarah kandang natal bermula dari Santo Fransiskus dari Assisi, pendiri ordo Fransiskan. Pada 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio, Italia, dan menyajikan kembali situasi kelahiran Yesus di dalam kandang Kota Betlehem. “Gereja Katolik banyak menggunakan symbol seperti patung dan kandang Natal lebih untuk mengingatkan lahirnya Tuhan Yesus”. Tradisi ini kemudian berkembang luas di wilayah Eropa dan akhirnya di Gereja-gereja Katolik di Indonesia (yang aslinya memang dari Eropa). Selamat berkreasi di NATAL 2012 ini!!
»»  READMORE...

Jumat, 12 Oktober 2012

Sampek, Alat Musik Tradisional Suku Dayak



Indonesia adalah negara yang kaya dengan budayanya yang sangat beragam dan unik. Salah satunya adalah alat musiknya yang beragam bentuknya. Kali ini saya mereview alat musik yang berasal dari kalimantan yaitu Sampek. Ada alasan mengapa saya mereview alat musik yang satu ini, karena saya penasaran akan namanya yang mirip cerita dari cina yaitu “Sampek Engtay”.

Sampek adalah alat musik tradisional Suku Dayak, terbuat dari berbagai jenis kayu ( kayu pelaik, kayu arrow, kayu kapur, kayu ulin ) atau jenis kayu lempung lainnya, juga bisa kayu keras seperti kayu nangka, belian dan kayu keras lainnya. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka suara yang dihasilkan lebih bagus dan di buat secara tradisional tentunya. Bagian permukaannya diratakan, sementara bagian belakang di lobang secara memanjang,  namun tidak tembus kepermukaan. Untuk mencari suara yang bagus maka tingkat tebal tipisnya tepi dan permukaannya harus sama, agar suara bisa bergetar merata, sehingga menghasilkan suara yang cukup lama dan nyaring ketika dipetik. Proses pembuatan bisa memakan waktu berminggu minggu. Dibuat dengan 3 senar, 4 senar dan 6 senar. Biasanya sampek akan diukir sesuai dengan keinginan pembuatannya dan setiap ukiran memiliki arti (motif dayak).

Alat ini mirip seperti gitar hanya dipadukan dengan sedikit ornamen dari suku Dayak, bentuk dari alat musik ini berbentuk kotak. mendengarkan bunyi sampek yang mendayu dayu, seolah memiliki roh/kekuatan . di pamang banyak warga yang amat mahir memainkan sampek. Bunyi sampek biasa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian, atau memberikan semangat bagi para pasukan perang. 
Alat musik ini biasanya dimainkan pada acara adat suku dayak, misalnya pada acara “gawai padi” atau ritual syukuran hasil panen padi.

Sedangkan cara memainkannya, jelas berbeda dengan cara memainkan melodi gitar, karena jari-jari tangan hanya pada satu senar yang sama bergeser ke atas dan bawah. Pemusik ketika memainkan sebuah lagu, hanya dengan perasaan atau feeling saja.

Untuk sementara ini belum ada panduan khusus yang menulis tentang notasi lagu musiknya, rekaman musik sampek ini bisa didapat seperti di Kalimantan Barat,Kalimantan Timur dan Sarawak dalam bentuk CD.

Suku Dayak Kayaan sangat populer dalam memainkan alat musik sampek = sape’ (sebutan masyarakat Kayaan). Alat musik sape’ yang dimiliki oleh Dayak Kayaan bentuknya berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar satu meter, memiliki dua senar/tali dari bahan plastik. Sape’ jenis ini memiliki empat tangga nada.
Jenis - jenis Sape' Suku Dayak
Sujarni Alloy, peneliti Institut Dayakologi mengungkapkan, sape adalah sebuah mitologi dalam masyarakat Dayak. Keberagaman suku bangsa, semakin menambah ciri khas seni dan budaya bermusik. Ia menyebut Dayak Kayaan dan Kenyah yang memiliki kekhasan bermusik dengan tiga dawai itu.
Dayak Kayaan yang mendiami Kalimantan, baik di Sungai Mendalam, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sungai Mahakam, Sungai Kayaan dan sekitarnya di Kalimantan Timur dan Sungai Baram, Telaang Usaan, Tubau dan sekitarnya Serawak-Malaysia, memiliki seni musik yang unik.
Suku ini cukup besar. Dalam groupnya ada berbagai subKayaan, antara lain Punan, Kenyah dan Kayaan sendiri. Suku ini memiliki alat musik yang dinamakan sampek (orang Kayaan menyebutnya Sape’). Sape’ adalah musik petik yang tidak asing lagi di mata para pelagiat seni baik di Indonesia maupun Sarawak-Malaysia.

Musik sape’ yang dimiliki oleh Dayak Kayaan terdiri atas dua jenis. Pertama, berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar satu meter, memiliki dua senar / tali dari bahan plastik. Sape jenis ini memiliki empat tangga nada. “Orang kerap menyebutnya sebagai sape Kayaan, karena ditemui oleh orang Kayaan,” kata Alloy.

Sementara satunya berbadan kecil memanjang. Pada bagian ujungnya berbentuk kecil dengan panjangnya sekitar 1,5 meter. Orang menyebutnya dengan sape’ Kenyah, karena ditemui oleh orang Kenyah. Sape’ ini memiliki tangga nada 11-12. Talinya dari senar gitar atau dawai yang halus lainnya, tiga sampai lima untai.
Dari kedua jenis sape ini, yang paling populer adalah Sape’ Kenyah. Karena irama dan bunyi yang dilantunkannya dapat membawa pendengar serasa di awang-awang. Tidak heran pada zaman dulu, ketika malam tiba, anak muda memainkannya dengan perlahan-lahan baik di jalan maupun sepanjang pelataran rumah panjang (rumah betang), sehingga pemilik rumah tertidur pulas karena menikmatinya.

Dengan kekhasan suaranya, konon menurut mitologi Dayak Kayaan, Sape’ Kenyah, diciptakan oleh seorang yang terdampar di karangan (pulau kecil di tengah sungai) karena sampannya karam di terjang riam. Ketika orang tersebut yang sampai hari ini belum diketahui siapa sebenarnya, bersama rekan-rekannya menyusuri sungai, diperkirakan di Kaltim.

Karena mereka tidak mampu menyelamatkan sampan dari riam, akibatnya mereka karam. Dari sekian banyak orang tersebut, satu di antaranya hidup dan menyelamatkan diri ke karangan. Sementara yang lainnya meninggal karena tengelam dan dibawa arus.

Ketika tertidur, antara sadar dan tidak, dia mendengar suara alunan musik petik yang begitu indah dari dasar sungai. Semakin lama dia mendengar suara tersebut, semakin dekat pula rasanya jarak sumber suara musik yang membuatnya penasaran.

Sepertinya dia mendapat ilham dari leluhur nenek moyangnya. Sekembali ke rumah, dia mencoba membuat alat musik tersebut dan memainkannya sesuai dengan lirik lagu apa yang didengarnya ketika di karangan. Mulai saat itulah Sape’ Kenyah mulai dimainkan dan menjadi musik tradisi pada suku Dayak Kenyah, hingga ke group Kayaan lainnya. Kini Sape’ Kenyah itu bukanlah alat musik yang asing lagi.

Ketika acara pesta rakyat atau gawai padai (ritual syukuran atas hasil panen padi) pada suku ini, sape kerap dimainkan. Para pengunjung disuguhkan dengan tarian yang lemah gemulai. Aksessoris bulu-bulu burung enggang dan ruai di kepala dan tangan serta manik-manik indah besar dan kecil pada pakaian adat dan kalung di leher yang diiringi dengan musik sape’.

Musik ini dimainkan oleh minimal satu orang. Bisa juga dua atau tiga orang, sehingga suaranya lebih indah. Jenis lagu musik sape’ ini bermacam-macam, biasanya sesuai dengan jenis tariannya. Misalnya musik Datun Julut, maka tariannya juga Datun Julut dan sebagainya.

Ada beberapa jenis lagu musik sape’, di antaranya: Apo Lagaan, Isaak Pako’ Uma’ Jalaan, Uma’ Timai, Tubun Situn, Tinggaang Lawat dan Tinggaang Mate. Nama-nama lagu tersebut semua dalam bahasa Kayaan dan Kenyah.

Menurut V. Aem Jo Lirung Anya, seorang pemusik sape asal Dayak Kayaan Sungai Mendalam, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tidak jarang pembuat sape’ selalu salah untuk menentukan mutu dari suaranya.

Saat ini sape’ tidak saja bisa dimainkan sendiri bersaman dengan musik tradisi lainnya, tapi juga dapat dikolaborasikan dengan musik modern seperti organ, gitar bahkan drum sebagai pengganti beduk. Saat ini sape’ dapat dibeli di toko kerajinan, hanya saja kebanyakan dari sape’ tersebut sudah tidak lagi asli dan bermutu, bahkan tidak lebih dari fungsi pajangan belaka. Dan, dawai sape tetap berdenting. Zaman telah mengadopsinya menjadi inspirasi bagi pemusik modern. (*)

Berikut bentuk sape rakitan yang dapat jadi gambaran kita :
Ukuran Standar Sape' Rakitan

Gambar di atas meruapakan ukuran Sape' berukuran standar dan masih banyak pembuat Sape berpedoman dengan ukuran tersebut, namun tidak jarang ukuran Sape' tersebut berbeda dengan ukuran standar secara umum, karena ada beberapa pemesan Sape' meminta ukuran tersendiri yang tentunya diseimbangkan dengan  lebar dan panjang Sape' tersebut agar suara yang dihasilkan tetap berkualitas. Secara umum alasan kenapa ukuran Sape' dibuat berbeda dengan ukuran standar yang ada, ialah untuk menyesuaikan dengan ukuran badan pemain Sape' tersebut.

Demikianlah penulisan alat musik Suku Dayak ini saya buat, dan berterimakasih untuk berbagai refrensi yang sudah saya dapatkan, segala kekurangan dan penambahan pembahasan mengenai Sape' silahkan mengirimkan ke email saya yang sudah tersedia. Salam Borneo


Penulis : Jumidi
Pemilik : duniadayakborneo
Refrensi : ayasd4next.blogspot 

»»  READMORE...

Sabtu, 29 September 2012

GASING KALIMANTAN BARAT

Foto : Refrensi toko masyarakat & mr. google

Asal Usul Lahirnya Permainan gasing

Asal Usul Secara Umum
Asal Usul Perkataan Gasing – Gah Berpusing
Menurut sumber dari Terengganu gasing berasal daripada permainan memusing buah berembang. Buah berembang berbentuk bulat licin dan agak leper. Buah yang mudah ditemui di pesisir pantai ini selalu digunakan oleh ahli silat sebagai satu latihan untuk menguatkan tangan. Di setengah tempat, buah berembang juga dikenali sebagai buah perepat (sonneratia alba). Buah berembang ini juga dijadikan sebagai permainan. Dalam permainan buah berembang, buah ini akan dipusingkan dengan menggunakan tangan. Buah berembang yang berpusing paling lama dan paling ligat dikira paling “gah” dan pemusingnya dianggap sebagai pemenang. Gasing dicipta berdasarkan bentuk buah berembang. Perkataan gasing bberasal dari gabungan dua kata yaitu “gah & berpusing”. Gah dalam istilah permainan gasing bermaksud berpusing dengan ligat dan tegak.

Gasing Berasal Daripada Permainan Laga Telur
Sumber dari Kedah ada menyatakan bahwa permainan gasing berasal dari permainan “laga telur ayam”. Permainan memusing dan melagakan telur ayam ini menjadi permainan kegemaran kanak-kanan pada masa dahulu. Kemudian barulah timbul ide untuk menghasilkan gasing mengikuti rupa bentuk telur. Paksi ditambah agar gasing berputar dengan laju dan tegak. Gasing yang diputar dengan tangan kurang ligat berputar dan pusingannya tidak tahan lama. Oleh karena itu tali digunakan supaya dapat memusingkan gasing dengan lebih ligat dan lama.

Gasing Berasal Dari Peralatan Memburu Binatang
Pemain gasing veteran dari sungai Pahang menyatakan bahwa gasing dahulunya merupakan senjata untuk memburu binatang. Gasing yang berbentuk leper dan bulat akan berputar dengan ligat apabila dilemparkan ke badan binatang buruan. Ide permainan gasing dikatakan datang dari aktivitas para pemburu, yang pada mulanya bertujuan menguji keahlian melempar gasing ke sasaran.

Asal Usul Gasing Kalimantan Barat
Dua suku asli dan terbesar yang menghuni Kalbar yaitu Dayak dan Melayu. Kedua suku ini memang mempunyai banyak kesamaan budaya diantaranya adalah permainan gasing. Yang berbeda hanyalah dalam penyebutan atau bahasa yang digunakan. Tidaklah heran bila dalam penuturan asal usul permainan gasing ini dibuat dalam dua bahasa atau penyebutan, tidak lain agar para pembaca sedikit dapat memahami inilah kultur sebagian kecil bangsa Indonesia. Konon Gasing pada masyarakat Dayak Kanayatn lebih dikenal dengan Pangka.

Menurut cerita yang terdapat pada orang Dayak kanayatn, gasing adalah Manusia (Talino) jelmaan jubata (Tuhan) yang disebut NEK GASIKNG bernama NEK ABAKNG SAJINTE JUBATA TAPAKNG, juga sebagai penguasa pohon-pohon kayu yang tumbuh dihutan. Sehingga jenis kayu yang dibuat sebagai bahan gasing yang terbaik adalah urat/bandir (akar) dari kayu Tapakng. Pangka’ gasing bagi masyarakat Adat Dayak  Kanayatn, diakui sebagai salah satu unsur Budaya adat yang telah lama dilakukan bagi kehidupan manusia, maka dr itu pangka’ gasing adalah tradisi Budaya adat, yang penyelenggaraannya ditentukan pada musim atau waktu dalam proses kegiatan Bahuma atau berladang (bertani padi), yaitu pada saat padi mulai ditanam sampai pada panen raya (bernyanyi) padi.

Konon manusia (Talino) pada mulanya tidak mengenal beras atau padi sebagai bahan makanan pokok, melainkan sejenis cendawan (kulat/jamur) yang tumbuh dan diambil dari batang kayu yang telah mati. Melihat kehidupan manusia seperti itu, Nek Gasikng melakukan kegiatan berputar ditengah-tengah ruang utama samik, dengan tujuan agar padi turun ke bumi dan menhelang subuh Nek Uit-uit memanggil padi/beras (Nyaru’Leko) di tengah pante (teras rumah). Karena Nek Gasikng melakukan sendiri, maka ia memiliki keinginan membuat benda yang dapat berputar menyerupainya sendiri, sehingga ia mengambil akar Tapakng sesuai namanya untuk membuat sebuah gasing yang menyerupai namanya juga. Setelah itu gasing mulai dimaiknkan oleh manusia (Talino), saat itu juga tanpa disadari oleh manusia ternyata dari khayangan seorang jelmaan Putra Jubata (tuhan) yang bernama BARUAKNG tertarik untuk bermain gasing atau berpangka’ dengan anak-anak manusia yang ada di bumi. Dengan ketertarikannya itu ia memutuskan turun ke bumi untuk mengajak anak manusia berpangka gasing.

Berawal dari Baruakng dan anak manusia bermain gasing saat itulah padi dikenal oleh manusia di bumi sebagai makanan pokok. Baruakng setiap kali turun ke bumi bermain gasing selalu membawa bekal nasi, sedangkan manusia berbekal jamur/kulat karang. anak manusia menjadi penasaran melihat makanan Baruakng seperti ulat, putih bersinar, sehingga anak-anak manusia mencoba memakannya. Setelah memakannya anak manusia tertidur karena rasa nasi Baruakng sangat enak dan nyaman. Merasa nasi itu enak, anak-anak manusia meminta kepada Baruakng agar dibawa ke bumi contoh bijinya atau bibitnya untuk disampaikan ke Nek Inang-inang (orang tua anak manusia yang berpangka; gasing bersama Baruakng). Keesokan harinya Baruakng berencana membawa biji padi ke bumi, namun dimarahi oleh orang tuannya yang bernama NEK SIJAEK sehingga ia mencari akal, karena Baruakng belum bersunat maka ia menyembunyikan biji padi itu dalam kulit kemaluannya, (hingga sekarang Baruakng disebut Nek Baruakng Kulub).

Sampai ke bumi Baruakng memberi tahu kepada manusi agar bijji padi itu ditanam ditempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh bapaknya, dan disarankan supaya ditanam didapur tempat pembakaran yang ada di dalam rumah, saran tersebut dipenuhi dan dituruti manusia.

Konon pula menurut versi cerita suku melayu Kalimantan Barat khususnya Kabupaten SAMBAS, timbulnya permainan ini menurut ceritanya adalah sebagai berikut :

Seorang putra khayangan yang turun ke bumi sedang melihat anak manusia yang bermain dan ia tertarik dengan permainan ini yaitu memainkan sepotong kayu yang berputar-putar dihalaman rumah anak manusia tersebut, anak bangsa khanyangan ini merasa heran campur senang sepotong kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa dapat berputar dengan cara dilempar dengan menggunakan seutas tali, kemudian dengan kekagumannya, ia mengajak anak manusia naik ke khayangan dengan membawa benda yang dimainkan tersebut, sesampainya di Khayangan dimintanya anak manusia untuk memainkan permainan itu dihadapan anak-anak bangsa Khayangan, mereka semua terkagum-kagum dengan permainan tersebut, kemudian anak manusia dibberi makan, pada saat diberi makanan tersebut, giliran anak manusia yang terheran karena belum pernah ia makan makanan yang berbiji putih dan nikmat sampai perutnya merasa kenyang dan kenyangnya pun lama, melihat anak manusia yang makan dengan banyak dan senang sehingga tergugahlah perasaan anak bangsa Khayangan lalui ia pun berkata “nanti akan saya bawakan benda ini ke bumi” dengan syarat kamu harus selalu memainkan benda ini.

Kemudian anak manusia diantarkannya pulang ke bumi, dan sesuai dengan permintaan anak bangsa Khayangan, anak manusia tadi selalui memainkan permainan ini, hampir lupa dengan apa yang telah diucapkan pada waktu mereka bermain di Khayangan, datanglah anak bangsa Khayangan dengan membawa sebutir biji benda yang dikeluarkannya dari kemaluannya karena takut dimarahi oleh orang tuanya maka biji tersebut disimpan dalam kemaluannya, benda tersebut dimintakan oleh anak bangsa Khayangan untuk ditanam.

Anak manusia pun menurut apa yang dimintakan, biji tersebut ditanam dan dari hari kehari makin menampakkan pertumbuhannya semakin banyak pula, sesuai permintaan anak bangsa khayangan agar selalu memainkan permainan ini, dan biji yang ditanam tadipun akhirnya telah layak untuk diambil, dari satu biji yang ditanam hasilnya berlipat ganda beribu-ribu banyaknya, maka biji tanaman ini terus dikembangkan. Sejak saat itulah tanaman ini dikenal oleh manusia sebagai makanan pokok yang dapat mengenyangkan dan tahan lama. Oleh anak manusia permainan yang berputar serta berpusing tersebut diberi nama “GASING”.

Sampai saat ini permainan ini dimainkan oleh anak manusia mulai musim bertanam padi sampai masa panen. Dengan turunnya padi kepada manusia ke bumi, maka Pangkak Gasing (bermain gasing) dilakukan turun-temurun bagi masyarakat Dayak (KALIMANTAN BARAT PADA UMUMNYA) hingga sampai sekarang ini dari tingkat pedesaan sampai tingkat Propinsi KALBAR, baik dalam acara peringatan hari-hari besar agama, gawai NAIK DANGO, pesta ulang tahun kerajaan maupun peringatan hari-hari besar Nasional. Padi dengan gasing berhubungan sangat erat sekali, sehingga didalam kehidupan orang Dayak dan Melayu Kalbar, padi dibuatkan tempat khusus (dango padi/tamping) lumbung padi dimasukkan sebuah gasing yang namannya gasing gantang, ukuran gasing yang disimpan ke dango padi tersebut ukurannya sama dengan pengukur padi/bera sebagai alat timbangan tempo dulu yaitu GANTANG. Sedangkan di dalam tempayan tempat menyimpan beras disimpan gasing cupak, yang ditutupkan pada mulut tempayan, dan pase untuk ukurang beras.

GASING sendiri merupakan salah satu khasanah permainan tradisional anak-anak Nusantara yang layak untuk dilestarikan, namun sangat disayangkan permainan gasing tradisional ini pada masa sekarang cenderung terlupakan dan tergantikan oleh berangam jenis permainan produk asing. Padahal permainan gasing tradisional pada masa lalu tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Sulawesi, NTT, NTB, Kalimantan hingga Papua. Sementara di Kalimantan, meliputi Kalteng (Kalimantan Tengah), Kalsel (Kalimantan Selatan), Kaltim (Kalimantan Timur), Kalbar (Kalimantan Barat), permainan gasing biasa disebut bepangkak.

Jenis-jenis Gasing
Jenis gasing yang sering dimainkan ada dua macam yang terdiri dari; (1). Gasing untuk permainan berindu (URI), (2). Gasing yang digunakan khusus untuk bermain pangkak.

Gasing untuk permainan berindu
Gasing ini tidak digunakan untuk dipangkakkan sebab bentuk dan gasingnya sangat berbeda dari gasing yang digunakan untuk berpangkak diantara cirinya yaitu; mempunyai kepala yang kecil bagian burit sangat kecil (pasaknya halus) hanya diadu lamanya berputar, setelah diemban lalu dicedok dan diletakkan diatas piring kemudian diletakan di atas meja, dibiarkan di meja samapai akhirnya gasing tersebut berhenti dengan sendirinya.

Gasing untuk bermain pangkak
Gasing ini digunakan untuk berpangka dengan berbagai  jenisnya, diantara modelnya sebagai berikut :
a.      Model buah gerambang/gasing epal atau buah ampaning
b.      Model leper/gasing epal tumpi
c.       Model botol/gasing ronjo pangkok
d.      Model canting pisang/gasing ronjo bangkukng
e.      Model jantung/gasing palang
Gasing dapat dibedakan menjadi gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul.

Ciri-ciri dan Kegunaan Model Gasing
Gasing model buah gerambang/epal epeh ampaning :
Pakang/bagian pinggirnya dengan ukuran 2 – 3 cm, tingginya 4 – 8 cm, kepala kecil dan dapat digunakan untuk dipasangkan ataupun dipangkakkan.

Gasing leper/gasing epal Tumpi :
Pakang/bagian pinggirnya dengan ukuran 1 – 2 cm, tingginya 3 – 6 cm, bagian kepala kecil dan dapat digunakan adu uri sebgai penentu untuk memulainya berpangkak.

Gasing botol/gasing ronjo pangkok :
Gasing ini ukurannya 8 – 12 cm bagian pakang/pinggirnya tebal hampir menyerupai botol, hanya dapat digunakan untuk dipangkakkan sebab kekuatan putarannya tidak tahan lama.

Gasing canting pisang/gasing ronjo bangkukng :
Gasing ini ukurannya sama dengan gasing botol, hanya badannya lebih besar dan hanya dapat digunakan untuk memangkak gasing lawan.

Gasing jantung/gasing palang :
Gasing ini hampir menyerupai organ jantung, ukurannya besar, mempunyai bahu/badan seperti gasing leper dan gasing buah gerambang. Digunakan hanya untuk memangkak gasing lawan karena ketahan lama berputarnya tidaklah baik.

Untuk gasing berpangkak jenisnya ada dua macam yaitu :
Gasing Murni (gasing polos) ; jenis gasing ini tidak ditambah apapun kecuali pasak dan motif kayunya harus asli. Untuk gasing standar Kalbar dengan ukuran keliling gasing 32cm dari bagian pakang/pinggir gasing yang terluar, sedangkan yang tidak standar biasanya ukurannya mencapai 40 cm beratnya sampai 2 kg.

Gasing bertambah (gasing remot) ; adalah gasing yang telah dikombinasikan ditambah pemberat berupa timah yang ditambahkan pada keliling pakang gasing dan diberi simpai pengaman dari bahan almunium ataupun seng yang dipakukan untuk melindungi timah agar timahnya tidak keluar dan bahannya terbuat dari kayu jenis putih yang a lot atau tidak mudah pecah bilapun gasing tersebut pecah saat dipangkak tidak membahayakan orang yang berada disekitarnya. Ketahanan atau lamanya berputar lebih lama bila dibandingkan dengan jenis gasing pangkak yang lainnya. Gasing ini hanya dimainkan oleh masyarakat melayu Kabupaten Sambas.

CARA MEMPERBAIKI GASING DAN MERAWAT GASING
Memperbaiki Gasing
Setelah gasing selesai dibuat/dibubut atau diraut, agar gasing seimbang maka gasing perlu diuji untuk engetahui apakah gasing sudah seimbang atau belum dengan cara sebagai berikut :

Mengucil/memutarkan gasing tersebut dengan tangan, kemudian diberi tanda dengan spidol atau dengan menggunakan serpihan kayu kecil yang diberi air liur dibagian atas kepala gasing. Kemudian dilihat pada bagian mana yang sedikit atau kecil yang terkena spidol/air lir maka pada bagian pinggir pakang gasing tersebut diberi sedikit demi sedikit paku kecil/tanah yang ditempelkan dibagian burit gasing lalu digeser-geser sambil tetap mengucil sehingga keadaan gasing benar-benar seimbang. Boleh dengan memasang pasak terlebih dahulu atau memberi pasaknya. Kegunaan memberi penyeimbang ini adalah agar gasing awet hidunya atau lama berputarnya.

Dengan mengucil/memutar atau menyurung (menghiduo/memutar gasing dengan cara mendorong gasing kedepan terlebih dahulu membolang/mengikat) gasing tanpa diberi pasak, pada bagian burit gasinglah yang akan diberi tanda dengan spidol dibagian yang terkena spidol, maka pada bagian tersebutlah yang akan diraut sampai semua bagian urit gasing terkena spidol maka gasing tersebut seimbang. Tahap berikutnya barulah memasangkan pasaknya, dengan terlebih dahulu melobangi dengan alat pelobang, pada pasak atau lobang diberi lem perekat agar pasak dapat merekat dengan lem kawin yang daya rekatnya 2 jam, barulah gasing tersebut diputar lagi apabila sudah benar-benar seimbang maka tahapan ini sudah mencapai tahap yang sempurna.

Cara Merawat Gasing
Cara merawat gasing dan menyimpan gasing agar gasing tetap awet dan tahan lama ada beberapa cara perawatannya yaitu :

Gasing diletakkan dalam parit atau dalam sumur/perigi, khususnya untuk gasing yang terbuat dari kayu keras, seperti kayu mbaris dan kayu belian/ulin.

Gasing diletakan atau disimpan ditempat yang teduh dengan cara meletakkan gasing tersebut di bekas tempat/kotak. Untuk masing-masing satu tempat satu buah gasing.

Membuat tempat khusus yang terbuat dari triplek yang dilobangi yang disesuaikan dengan besarnya gasing, kemudian gasing diletakkan dengan posisi bagian atas gasing tetap di atas tidak dibalik. Tujuan meletakkan gasing demikian adalah agar gasing tidak berobah keseimbangnnya dengan demikian gasing tetap terjamin keawetannya.

Sebelum gasing disimpan terlebih dahulu gasing tersebut pada bagian bawahnya diolesi dengan oli agar pasaknya tidak karatan.

Menyimpan tali gasing yaitu dengan cara memasukan talinya dalam kantong plastic dan di ikat.

Untuk gasing remot/gasing bertambah agar awet, setelah gasing selesai dibuat maka gasing tersebut diberi warna sesuai dengan yang diinginkan, kemudian dioles dengan lem super glue (lem kaca), dapat juga di cat dengan warna clear atau warna transparan.

Ketentuan dan Panduan Teknis Permainan Gasing KALBAR

Pertandingan gasing akan didahuli adu uri oleh kedua regu yang bertanding.

Pemenang uri ditentukan oleh putaran gasing yang terlama dan untuk regu pemenang uri mendapat nilai 15, berkesempatan untuk memangkak terlebih dahulu sebanyak tiga kali dan kemudian memasang tiga kali.

Gasing pemasang/pemangkak tidak boleh untuk dibetulkan dan dipindahkan.

Gasing yang sah putarannya bila posisi kepala gasing tetap berada di atas dan bagian pasaknya dibawah/di atas tanah.

Gasing pemasang harus berada dalam lingkaran dan apa bila berada dalam lingkaran (sebanyak tiga kali memasang) dan gasingnya tidak berputar/hidup, gasing lawan tidak dapat memangkak gasing yang tidak berputar tersebut maka pihak lawan memperoleh nilai 10 (sepuluh).
pemangkak harus berada diluar satu lingkaran garis yang akan dipangkak.

Pemangkak yang mengijak garis/line sebagaimana telah ditentukan pada poin 6 tersebut di atas maka dinyatakan dis/kalah dan pihak lawan yang mendapatkan nilai sesuai letak gasing yang dipasang.

Apabila gasing pemangkak tidak mengenai gasing lawan, maka pihak lawan akan memperoleh nilai sesuai letak gasing yang dipasang.

Apabila gasing pemangkak dapat menyentuh langsung/mengenai gasing lawan, kemudian diadu gasing yang terlama berputar yang akan mendapatkan nilai sesuai letak gasing tersebut.

Apabila gasing pemangkak menyentuh/mengenai gasing lawan dan kedua-dua gasing tersebut keluar dari arena/lingkaran, maka keduabelah pihak tidak mendapat nilai.

Gasing pemangkak harus menyentuh langsung/mengenai tanpa menyentuh tanah terlebih dahulu dianggap syah dan bila menyentuh tanah terlebih dahulu maka gasing lawan yang akan mendapatkan nilai sesuai letak gasing.

Apabila talinya menyentuh gasing lawan dan mempengaruhi posisi gasing lawang atau gasing lawan menjadi mati (tidak berputar), maka nilai diberikan pada gasing lawan sesuai letak gasingnya.

Permainan Gasing Melayu Sambas
Bahan dan Alat
Bahan
Gasing terbuat dari kayu diantaranya adalah sebagai berikut ; kayu Mbaris, kayu Keranji, kayu Belian (ulin). Kayu Laban Tanduk, kayu Mampat, kayu Akasia, kayu Asam Jawa, kayu Petai Cina, kayu Mirau, kayu Jeruk Sambal, (batang limau calung), kayu Dungun. Pasak gasing yang digunakan untuk pangkak terbuat dari besi, sedangkan untuk gasing berindu (uri) pasaknya terbuat dari jarum jahit.

Alat
Tali; tali terbuat dari kulit kayu seperti; kulit kayu Temaran, kulit kayu Peluntan,kulit kayu Baruk, dan dapat juga dari tali nilon. Khusus untuk tali yang terbuat dari kullit kayu cara pembuatannya adalah dengan terlebih dahuli direndam beberapa hari, kemudian dipukul-pukul untuk membuang bagian kulit luarnya, lalu dijemur dan selanjutnya dipintal menjadi tali sesuai yang diinginkan. Pada bagian ujungnya lebih kecil, sedangkan pada bagian tengahnya berdiameter antara 0,5 – 1,0 cm, panjangnya disesuaikan penggunaannya. Sedangkan untuk tali nilo, tali harus dibuka terlebih dahulu kemudian dipintal lagi sebab tali buatan pabrik pintalannya kiri oleh karena itu tali tersebut dibuka dan dipintal disesuaikan dengan yang diinginkan yaitu kanan.
Pencedok ; pencedok digunakan khusus untuk gasing berindu, terbuat dari potongan triplek ataupun kayu tipis dengan panjang kira-kira 15 – 20 cm dan bentuknya seperti sendok nasi.
Pancang/Tonggak ; kayu Pancang/Tonggak kayu panjangnya kira-kira 2 meter dengan keliling 20 – 30 cm yang digunakan untuk tonggak tempat mengembankan gasing untuk gasing berindu, tonggak tersebut ditancapkan pada tanag tempat dimana permainan gasing akan dilaksanakan.
Piring/Pinggan ; Piring atau pinggan digunakan sebagai alas (wadah/tempat) gasing berindu yang berputar setelah diemban yang diberi sedikit minyak agar supaya permukaan piring/pinggan licin.
Perlengkapan lainnya seperti :
Getah kayu Moras yang berguna agar tali tidak licin pada saat tali dibolang (diikatkan ke gasing). Damar; berguna agar gasingnya tidak licin pada saat tali dibolang. Amplas; berguna untuk mengamplas pasak gasing agar cocok dengan tempat atau tanah dimana gasing akan dimainkan (khusus gasing pangkak).

TATA CARA PEMBUATAN GASING
Cara Pembuatan Gasing Berindu
Untuk pembuatan gasing berindu dapat dilakukan dua cara :
Cara diraut
Dengan cara meraut; pertama-tama kayu dibakal (dibulatkan sesuai bentuk bakal gasing), setelah berbentuk seperti gasing, pekerjaan meraut tetap dilakukan, gasing diputar dan diberi tanda dengan spidol dimana yang terkena spidol ditempat itulah yang perlu diraut kembali sampailah akhirnya kesemua bagian dari gasing terkena spidol selesai.
Pembuatan pasak; pasak dibuat dari jarum jahit, bagian bawah (burit gasing) dilobangi dengan bor/gurdi dengan ukuran 0,5 – 0,8 mm kemudian disopak dengan kayu sepang yang terlebih dahulu diraut berbentuk bulat yang disesuaikan dengan mata bor sebagai pelobang. Pasak tersebut ditancapkan pada kayu sepang dengan sedikit demi sedikit diansah/dipotong dengan batu canai (batu ansahan), sampai bbenar-benar ggasing tersebut layak untuk dimainkan.

Dibubut atau Dilarik
Kayu dibakal berbentuk seperti gasing (dibulatkan sesuai bantuk gasing). Setelah berbentuk seperti gasing, bakal gasing tersebut dilarik/dibubut dengan mesin bubut sampai menjadi bentuk gasing yang diinginkan. Pembuatan pasak dan pemerian pasak sama halnya dengan cara pembuatan gasing yang diraut di atas.

Cara Pembuatan Gasing Pangkak
Untuk pembuatan gasing pangkak dapat dilakukan dua cara :
Dengan cara diraut sebagaimana pembuatan gasing berindu, namun dengan cara ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai hasil yang memuaskan.
Untuk cara kedua ini, pertama-tama kayu dibulatkan , kemudian dibakal sehingga berbentuk sebuah bakal gasing yang siap untuk dilarik/dibubut seperti berikut :

Pembuatan Pasak
Pasak gasing terbuat dari besi baut ukuran 14 dan kikir bulat dengan ukuran 8 – 12. Cara kerja pembuatannya sebagai berikut :
Baut dilobangi dengan manggunakan bor listrik sedalam 1 cm, kikir bulat dipotong dengan menggunakan gerinda sepanjang 1,5 cm, kemudian diberikan lem campur (lem besi). Seterusnya kikir bulat yang telah dipotong dimasukkan ke lobang pada baut dirapikan/dihaluskan dengan menggunakan gerinda sesuaikan dengan yang diinginkan.
Bila gasingnya telah selesai dibubut bagian bawahnya (burit) dilobangi untuk memasukkan pasang gasing yang telah tersedia disesuaikan dengan panjangnya pasak.

Pola Permainan Gasing
Cara atau Sistem Meraje atau Pangk
Cara/sistem Meraje adalah apabila dalam satu regu terdiri dari lima orang, jadi bila kedua regu saling berlawan tahapannya adalah :
Pangkak sistem Meraje diawali dengan berindu untuk menentukan siapa pemenang gasing yang paling lama berputar (masih hidup) dinyatakan sebagai pemenang. Regunya mendapatkan poin 1 dan diberikan kesempatan untuk memangkak gasing lawannya dan jika orang pertama memangkak gasing lawan ternyata kena gasingnya tetap dirindukan. Selanjutnya orang kedua memangkak dan orang kedua juga memasang gasingnya dipangka tidak kena gasing lawannya (dabbok) gasing lawan tetap dibiarkan hidup (berputar), begitu juga untuk orang ketiga dan orang keempat. Orang kelimalah merupakan penentu bila gasing orang kelima memangkak ternyata kena maka gasing yang masih berputar (hidup) tetap dirindukan gasing yang matinya terakhir adalah pemenangnya dan mendapatkan poin. Selanjutnya bila orang kelima ternyata ia memangkak dan tidak kena atauu lobos (gasing terlempar tidak kena) maka regu pemasanglah yang mendapatkan poin, gasing yang masih hidup tidak dirindukan. Pada saat berindu posisi gasing tidak boleh untuk dibetulkan, sedangkan bila sudah giliran memasang posisi gasing boleh dibetulkan dan jika sipemasang gasingnya lobos atau terlempar (tidak hidup) maka dapat digantikan oleh teman sereggunya yang lain. Sedangkan pemangkak tidak boleh digantikan dan posisi gasingnya tidak boleh untuk dibetulkan. Begitulah seterusnya sampain pada poin yang ditentukan (untuk pertandingan poinnya sampai 10) sistem poinnya seperti poin permainan pingpong. Bila pertandingan persahabatan poin tertingginya tergantung kesepakatan kedua regu.


Penulis : Jumidi
Pemilik : duniadayakborneo
»»  READMORE...